Archive for the ‘Pengalaman’ Category

Sekilas Tentang PLTA Mendalan

PLTA Mendalan

PLTA Mendalan terletak sekitar 3 km sebelah hilir Bendungan Selorejo, tepatnya di kecamatan Kasembon (sekitar 60 km arah barat Kota Malang). PLTA ini memanfaatkan potensial air Kali Konto (out flow) dari PLTA Selorejo yang ditampung dalam kolam tando, kemudian disalurkan melalui pipa pesat untuk memutar turbin.

Unit Turbin

Pipa Pesat

Pada awalnya PLTA Mendalan yang dibangun pada tahun 1927 dengan daya terpasang 3 x 5,6 MW merupakan pembangkit tertua di UP Brantas yang dibangun oleh Belanda. Pada masa perang kemerdekaan, PLTA Mendalan dihancurkan, sehingga mengalami kerusakan total. Setelah Konferensi Meja Bundar, PLTA Mendalan dibangun kembali dengan daya terpasang 1 x 5,6 MW dan 3 x 5,8 MW dengan produksi listrik rata-rata 80.750.000 kwh per tahun. Energi listrik ini disalurkan lewat transmisi 70 KV arah Mojokerto dan Blimbing (Malang).

Ditilang Polisi??Minta Yang Biru

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Suatu hari si Otong mengendarai sepeda motornya sepulang makan bersama si Ina di sebuah Mall. Kala itu jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Karena saat itu merupakan jam pulang kantor, maka jalanan pun macet total. Kurang lebih satu jam kemudian sampailah mereka di rumah Ina dan Otong mampir hanya sekedar untuk meneguk segelas air putih dingin untuk melepas dahaga. Setelah itu Otong pun pamit pulang kepada orang tua Ina.

Diperjalanan pulang tidak ada hal yang aneh yang dirasakan oleh si Otong. Kemacetan-pun dilaluinya dengan gesit dengan skill mengendarai motornya yang sangat menawan, ia dulu pernah menjadi pembalap motor yang kebanggaan kampungnya semasa muda. Selang beberapa kilometer kemudian, sampailah ia di pertigaan Jalan Juanda. Polisi di Jalan Juanda ini terkenal sangat galak. Merasa tidak ada yang kurang dari motornya, si Otong-pun langsung saja tancap gas berbelok ke kiri. Tak disangkanya, suara peluit terdengar dari seorang polisi yang berada di depannya. Otong-pun diminta untuk menepikan motornya.

Polisi   : “Selamat sore Pak..”

Otong  : “Selamat sore, ada apa ya Pak??”

Polisi   : “Boleh lihat surat-suratnya Pak??”

Otong  : “Oh ini,,silakan Pak..”

Karena merasa memiliki surat-surat yang lengkap, Otong langsung saja memberikan sim dan stnk motornya. Lalu polisi itu mengajaknya ke sebuah warung yang berada di pertigaan Jalan Juanda.

Polisi   : “Bapak mau damai aja apa mau ke pengadilan Pak??”

Otong  : “Lho lho,,ada apa ini Pak??”

Polisi   : “Gimana ini Pak??Kalo ke pengadilan bakal ribet ngurusnya..”

Otong  : “Maksudnya apa ya,,salah saya apa Pak??”

Polisi   : “Bapak gag tau salah Bapak apa??tadi itu Bapak belok tidak menyalakan lampu sign..”

Otong  : “Lha kan tadi yang belok ke sini cuma saya Pak,,lagian posisi saya juga sudah di kiri tadi..”

Polisi   : “Tetep saja Bapak salah,,jadi Bapak mau damai apa diurus ke pengadilan ini??”

…….

Percakapan pun terus berlanjut antara si Otong dengan polisi tersebut. Hingga tak ditemukan kata sepakat antara berapa jumlah uang damai yang diminta oleh polisi dengan yang hendak diberikan oleh si Otong. Akhirnya si Otong meminta tidak usah damai, ia meminta untuk membayar saja di bank. Namun polisi tersebut mengeluarkan slip berwarna merah. Karena melihat hal itu, Otong pun protes dan meminta slip yang berwarna biru.

Permintaan Otong tak langsung dipenuhi, polisi tersebut terlebih dahulu memanggil temannya dan setelah beberapa saat barulah diberikannya slip berwarna biru itu.

Menurut Direktur Lalu Lintas Mabes Polri, Kombes Pol Yudi Sushariyanto, tindakan langsung terhadap pelanggaran lalu lintas, lazim disebut tilang, adalah salah satu bentuk penindakan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan Polri. Penyelesaian atas pelanggaran itu berada dalam sistem peradilan pidana (criminal justice systemyang melibatkan kejaksaan dan pengadilan. Mengacu pada Pasal 211 KUHAP dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993, terdapat 28 jenis pelanggaran yang dapat dikenakan tilang.

Yudi menjelaskan, sistem tilang yang berlaku saat ini memberi tiga opsi bagi pelanggar. Seseorang bisa minta disidang di pengadilan, mau bayar ke Bank Rakyat Indonesia, atau pilihan lain dititipkan kepada kuasa untuk sidang. Kuasa untuk sidang itu tidak lain adalah polisi. Pilihan-pilihan ini sudah berlangsung sama, sesuai Surat Keputusan Kepala Kapolri No.Pol: SKEP/443/IV/1998, tanggal 17 April 1998 (SK 1998).

Dijelaskan Yudi, ketiga opsi ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengendara menyelesaikan pelanggaran yang dia lakukan. Tinggal pilih opsi yang mana, sehingga proses penindakan tidak sampai terlalu mengganggu aktivitas pelanggar. Kalau punya waktu ke pengadilan, ya monggo. Mau bayar lewat bank, silahkan.

Gambaran lebih teknis dipaparkan oleh Loekito. Kepala Divisi Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu lintas Polri ini menjelaskan Indonesia tidak menggunakan sistem tiket seperti di luar negeri secara murni. Tapi dipakai sistem penggabungan (hybrid-red) sesuai hukum acara Indonesia. Memang masyarakat diberi alternatif, “Kalau orang dikasih lembar biru, dia bisa titip uang sesuai tabel, atau bisa langsung ke BRI (Bank Rakyat Indonesia, red) di mana saja atau ke kantor pos” ujarnya.

Sumber : http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=17344&cl=Berita

Karena Otong sudah mengetahui tentang adanya slip berwarna biru dan merah yang memiliki perbedaan masing-masing, Otong pun meminta yang berwarna biru dimana ia bisa membayar denda melalui bank ataupun kantor pos dan meminta kembali surat-surat motornya di kantor polisi yang ditunjuk.

Tapi menggunakan slip biru ini juga ada prosedurnya, Otong sudah mengerti akan prosedur yang ada. Otong segera datang ke kantor polisi dulu untuk meminta cap. Di sana, petugas Ditlantas menunjuk BRI tempat membayar denda tilang, dan Otong keesokan harinya segera cepat-cepat membayar denda di tempat yang ditentukan. Lalu setelah itu ia pun kembali ke kantor polisi untuk mengambil surat-surat motornya.

Ringkasan tentang apa yang harus dilakukan  jika kena tangkap polisi:

  1. minta slip biru
  2. minta cap slip biru ke kantor polisi
  3. bayar ke BRI
  4. ambil lagi SIM/STNK yang ditahan di kantor polisi
  5. jangan kasih uang pada polisi, mereka sudah digaji kok..

Surat Tilang Biru..